BAB
I
PEMBAHASAN
1.1 Latar
Belakang
Dalam suatu perekonomian modern, setiap aktivitas mempunyai keterkaitan dengan
aktifitas yang lainnya dan semakin modern suatu perekonomian maka semakin
beasar dan semakin banyak kaitannya dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Apabila
semua keterkaitan antara suatu kegiatan dengan kegiatan lainnya dilaksanakan
melalui mekanisme pasar atau melalui suatu sistem, maka keterkaitan antara
berbagai aktifitas tersebut tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi banyak pula
keterkaitan antara kegiatan yang tidak melalui mekanisme pasar sehingga timbul
berbagai macam masalah.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan eksternalitas ?
2. Apa saja jenis-jenis
eksternalitas ?
3. Faktor-faktor apa saja penyebab terjadinya
ekternalitas ?
4. Bagaimana solusi
swasta terhadap
eksternalitas ?
5. Bagaimana kebijakan
publik untuk mengatasi eksternalitas ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian eksternalitas
2. Untuk mengetahui jenis-jenis eksternalitas
3. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab ekternalitas
4. Untuk mengetahui solusi swasta terhadap eksternalitas
5. Untuk mengetahui cara kebijakan publik untuk mengatasi eksternalitas
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Eksternalitas
Eksternalitas
merupakan efek samping suatu tindakan pelaku ekonomi terhadap pelaku ekonomi
lain yang merupakan pengaruh-pengaruh sampingan terjadi apabila
perusahaan-perusahaan atau orang-orang membebankan biaya atau manfaat atas
orang lain diluar tempat berlangsungnya pasar. Eksternalitas muncul ketika
seseorang atau perusahaan mengambil tindakan yang mempunyai efek bagi seseorang
ataupun perusahaan, efek tersebut tidak dibayar oleh individu atau perusahaan
yang bertindak. Disebut eksternal karena mekanisme pasar tidak dapat memasukkan
semua biaya, yaitu biaya sosial, biaya sebenarnya dari barang tersebut dalam
penentuan harga barang (true cost). Eksternalitas dibagi menjadi dua
tipe yaitu eksternalitas positif dan eksternalitas negatif. Eksternalitas
positif terjadi apabila pengaruh sampingan sifatnya membangun. Salah satu
contohnya yaitu pembangunan jaringan jalan raya. Sedangkan eksternalitas
negatif akan terjadi apabila pengaruh sampingannya bersifat menganggu
dapat berupa gangguan kecil hingga ancaman besar. Contohnya antara lain, polusi
udara dan air, kerusakan karena pertambangan terbuka, limbah-limbah berbahaya,
obat-obatan dan makanan yang membahayakan dan bahan-bahan radio aktif.
2.2 Jenis-Jenis Eksternalitas
Jenis-jenis ekternalitas yang dapat terjadi dalam
interaksi ekonomi, yaitu :
2.2.1
Dampak Suatu
Produsen Terhadap Produsen Lain
Suatu kegiatan produksi dikatakan mempunyai dampak
eksternal terhadap produsen lain jika kegiatannya itu mengakibatkan terjadinya
perubahan atau penggeseran fungsi produksi dari produsen lain. Dampak atau efek
yang termasuk dalam kategori ini meliputi biaya pemurnian atau pembersihan air
yang dipakai (eater intake clen-up costs) oleh produsen hilir (downstream
producers) yang menghadapi pencemaran air (water polution) yang diakibatkan
oleh produsen hulu (upstream producers). Hal ini terjadi ketika produsen hilir
membutuhkan air bersih untuk proses produksinya. Dampak kategori ini bisa
dipahami lebih jauh dengan contoh lain berikut ini. Suatu proses produksi
(misalnya perusahaan pulp) menghasilkan limbah-residu-produk sisa yang beracun
dan masuk ke aliran sungai, danau, atau semacamnya, sehingga produksi ikan
terganggu dan akhirnya merugikan produsen lain yakni para penangkap ikan
(nelayan). Dalam hal ini, kegiatan produksi pulp tersebut mempunyai dampak
negatif terhadap produksi lain (ikan) atau nelayan, dan inilah yang dimaksud
dengan efek suatu kegiatan produksi terhadap produksi komoditi lain.
2.2.2
Dampak Produsen Terhadap Konsumen
Suatu produsen dikatakan mempunyai ekternal efek
terhadap konsumen, jika aktivitasnya merubah atau menggeser fungsi utilitas
rumah tangga (konsumen). Dampak atau efek samping yang
sangat populer dari kategori kedua yang populer adalah pencemaran atau polusi.
Kategori ini meliputi polusi suara (noise), berkurangnya fasilitas daya tarik
alam (amenity) karena pertambangan, bahaya radiasi dari stasiun pembangkit
(polusi udara) serta polusi air, yang semuanya mempengaruhi kenyamanan konsumen
atau masyarakat luas. Dalam hal ini, suatu agen ekonomi (perusahaan-produsen)
yang menghasilkan limbah (wasteproducts) ke udara atau ke aliran sungai mempengaruhi
pihak dan agen lain yang memanfaatkan sumber daya alam tersebut dalam berbagai
bentuk. Sebagai contoh, kepuasan konsumen terhadap pemanfaatan daerah-daerah
rekreasi akan berkurang dengan adanya polusi udara.
2.2.3 Dampak Konsumen Terhadap Konsumen Lain
Dampak konsumen terhadap konsumen yang lain terjadi
jika aktivitas seseorang atau kelompok tertentu mempengaruhi atau menggangu
fungsi utilitas konsumen yang lain. Konsumen seorang individu bisa dipengaruhi
tidak hanya oleh efek samping dari kegiatan produksi tetapi juga oleh konsumsi
oleh individu yang lain. Dampak atau efek dari kegiatan suatu seorang konsumen
yang lain dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Misalnya, bisingnya suara alat
pemotong rumput tetangga, kebisingan bunyi radio atau musik dari tetangga, asap
rokok seseorang terhadap orang sekitarnya dan sebagainya.
2.2.4
Dampak Konsumen
Terhadap Produsen
Dampak konsumen terhadap produsen terjadi jika
aktivitas konsumen mengganggu fungsi produksi suatu produsen atau kelompok
produsen tertentu. Dampak jenis ini misalnya terjadi ketika limbah rumahtangga
terbuang ke aliran sungai dan mencemarinya sehingga menganggu perusahaan
tertentu yang memanfaatkan air baik oleh ikan (nelayan) atau perusahaan yang
memanfaatkan air bersih.
2.3 Faktor-Faktor Penyebab Ekternalitas
2.3.1
Keberadaan
Barang Publik
Karena sifat barang publik yang tidak ekslusif dan
merupakan konsumsi umum. Keadaan seperti akhirnya cendrung mengakibatkan
berkurangnya insentif atau rangsangan untuk memberikan kontribusi terhadap penyediaan
dan pengelolaan barang publik. Kalaupun ada kontribusi, maka sumbangan
itu tidaklah cukup besar untuk membiayai penyediaan barang publik yang efisien,
karena masyarakat cendrung memberikan nilai yang lebih rendah dari yang
seharusnya (undervalued).
2.3.2
Sumber Daya
Bersama
Keberadaan
sumber daya bersama (common resources) atau akses terbuka terhadap
sumber daya tertentu ini tidak jauh berbeda dengan keberadaan barang
publik di atas.
Sumber-sumber daya milik bersama, sama halnya
dengan barang-barang publik, tidak ekskludabel. Sumber-sumber daya ini
terbuka bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya, dan cuma-cuma. Namun
tidak seperti barang publik, sumber daya milik bersama memiliki sifat
bersaingan. Pemanfaatannya oleh seseorang, akan mengurangi peluang
bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Jadi, keberadaan sumber
daya milik bersama ini, pemerintah juga perlu mempertimbangkan seberapa banyak
pemanfaatannya yang efisien. Contoh klasik tentang bagaimana
eksternalitas terjadi pada kasus sumberdaya bersama ini adalah seperti yang
diperkenalkan oleh Hardin (1968) yang terkenal dengan istilah tragedi
barang umum (the tragedy of the commons).
2.3.3
Ketidaksempurnaan
Pasar
Masalah lingkungan bisa juga terjadi ketika salah satu
partisipan didalam suatu tukar manukar hak-hak kepemilikan (property rights)
mampu mempengaruhi hasil yang terjadi (outcome). Hal ini bisa terjadi
pada pasar yang tidak sempurna (imperfect market) seperti pada kasus
monopoli (penjual tunggal).
2.3.4
Kegagalan Pemerintah
Sumber ketidakefisienan dan
atau eksternalitas tidak saja diakibatkan oleh kegagalan pasar tetapi juga
karena kegagalan pemerintah (government failure). Kegagalan pemerintah
banyak diakibatkan tarikan kepentingan pemerintah sendiri atau kelompok
tertentu (interest groups) yang tidak mendorong efisiensi. Kelompok
tertentu ini memanfaatkan pemerintah untuk mencari keuntungan (rent seeking)
melalui proses politik, melalui kebijaksanaan dan sebagainya.
2.4 Eksternalitas Negatif Dan Positif Dalam Produksi Maupun Konsumsi
2.4.1
Eksternalitas
Negatif Dari Produksi
Pengertian eksternalitas negatif lebih kurang adalah
efek samping yang negatif dari suatu tindakan dari pelaku ekonomi (katakanlah
suatu perusahaan) yang di derita oleh pihak yang tidak terlibat dalam tindakan
ekonomi tersebut (bystander). Misalnya pada umumnya pabrik akan mengeluarkan
asap. Yang secara umum dapat dikatakan bahwa setiap tindakan ekonomi berpotensi
membawa efek samping, yang permasalahannya hanya pada tingkat gangguannya saja.
Dengan demikian, pelarangan secara total akan menghentikan kegiatan ekonomi
pada sektor usaha ini. dengan adanya efek negatif ini.
2.4.2
Eksternalitas
Positif dari Produksi
Yang dimaksud dengan eksternalitas positif adalah dampak
yang menguntungkan dari suatu tindakan yang dilakukan oleh suatu pihak terhadap
orang lain tanpa adanya kompensasi dari pihak yang diuntungkan. meskipun banyak pasar dimana biaya social melebihi
biaya pribadi, ada pula pasar-pasar yang justru sebaliknya, yakni biaya pribadi
para produsen lebih besar dari biaya sosialnya.di pasar inilah,
eksternalitasnya bersifat positif, dalam arti menguntungan pihak lain (selain
produsen dan konsumen). Contoh yang dapat di kemukakan disini adalah pasar
robot industry (robot yang khusus di rancang untuk melakukan kegiatan atau
fungsi tertentu di pabrik-pabrik).Robot adalah ujung tombak dari kemajuan
tekhnologi yang mutakhir. Sebuah perusahaan yang mampu membuat robot, akan
berkesempatan besar menemukan rancangan-rancangan rekayasa baru yang serba lebih
baik. Rancangan ini tidak hanya akan menguntungkan perusahaan yang
bersangkutan, namun juga masyarakat secara keseluruhan karena pada akhrnya
rancangan itu akan menjadi pengetahuan umum yang bermanfaat.
2.4.3
Eksternalitas
Dalam Konsumsi
Sejauh ini, eksternalitas yang telah kita bahas hanya
eksternalitas yang berkaitan dengan kegiatan produksi. Selain itu masih ada
eksternalitas yang terkandung dalam kegiatan konsumsi. Konsumsi minuman
beralkohol, misalnya, mengandung eksternalitas negatif jika si peminum lantas
mengemudikan mobil dalam keadaan mabuk atau setengah mabuk, sehingga
membahayakan pemakai jalan lainnya. Eksternalitas dalam konsumsi ini juga ada
yang bersifat positif. Contohnya adalah konsumsi pendidikan. Semakin banyak
orang yang terdidik, masyarakat atau pemerintahnya akan diuntungkan. Pemerintah
akan lebih mudah merekrut tenaga-tenaga cakap, sehingga pemerintah lebih mampu
menjalankan fungsinya dalam melayani masyarakat.
2.5 Solusi Swasta Terhadap Eksternalitas
Kita telah menyimak bahwa keberadaan
eksternalitas itu dapat mengakibatkan alokasi sumber daya yang dilakukan oleh
pasar menjadi tidak efisien. Namun sejauh ini kita baru mengulas secara sekilas
tentang cara-cara mengatasi eksternalitas tersebut. Dalam prakteknya, bukan
hanya pemerintah saja yang perlu dan dapat mengatasi eksternalitas itu,
melainkan juga pihak-pihak nonpemerintah, baik itu pribadi/kelompok maupun
perusahaan/ organisasi kemasyarakatan. Untuk mudahnya, kita sebut saja
pihak-pihak nonpemerintah tersebut sebagai pihak “pribadi” atau “swasta”. Pada
dasarnya, tujuan yang hendak dicapai oleh pemerintah maupun pihak swasta
(perorangan dan kelompok), berkenaan dengan penanggulangan eksternalitas itu
sama saja, yakni untuk mendorong alokasi sumber daya agar mendekati kondisi yang
optimum secara sosial. Pada bagian pembahasan berikut kita akan menelaah
solusi-solusi atau upaya-upaya yang dilakukan oleh pribadi atau swasta (private
solutions) dalam mengatasi persoalan eksternalitas.
2.5.1 Jenis-jenis Solusi Swasta
Inefisiensi pasar akibat
eksternalitas tidak perlu selalu harus atau bisa diatasi dengan penegakan atau
peningkatan standar moral, atau ancaman penerapan sanksi sosial. Misalnya,
mengapa orang-orang secara sadar tidak mau membuang sampah sembarangan?
Peraturan resmi yang mengatur tentang sampah memang ada, namun di banyak
tempat, peraturan semacam itu tidak dijalankan secara sungguh-sungguh. Kita
tidak mau membuang sampah disembarang tempat juga bukan karena takut dengan
peraturan-peraturan semacam itu, namun karena kita mengetahui atau menyadari
bahwa tidaklah baik dan tidak patut sejak kita masih kanak-kanak, bahwa kita
boleh melakukan sesuatu moral inilah yang kemudian membatasi perilaku dan
tindakan kita, agar sedapat mungkin tidak merugikan orang lain. Dalam bahasa ekonomi,
ajaran agama itu meminta kita untuk melakukan internalisasi eksternalitas.
Contoh lain solusi swasta,
adalah derma atau amal yang seringkali sengaja diorganisasikan untuk mengatasi
suatu eksternalitas. Contohnya adalah Sierra Club, sebuah organisasi sosial
swasta yang sengaja dibentuk untuk turut melestarikan lingkungan hidup.
Organisasi ini mengandalkan pemasukannya dari donasi pihak-pihak yang
bersimpati atau iuran anggota. Hal ini sebagai contoh untuk eksternalitas positif. Contoh lain,
misalnya kita mengetahui banyak
perguruan tinggi yang membentuk yayasan yang menghimpun sumbangan dari para
alumni, perusahaan, atau pihak-pihak lain, untuk kemudian disalurkan sebagai
beasiswa.
2.5.2
Teorema Coase
Ada sebuah
pemikiran yang disebut teorema Coase (Coase therem) mengambil nama perumusnya,
yakni ekonom Ronald Coase-yang menyatakan bahwa solusi swasta bisa sangat
efektif seandainya memenuhi satu syarat. Syarat itu adalah pihak-pihak yang
berkepentingan dapat melakukan negosiasi atau merundingkan langkah-langkah
penanggulangan masalah eksternalitas yang ada diantara mereka, tanpa
menimbulkan biaya khusus yang memberatkan alokasi sumber daya yang sudah ada.
Menurut teorema Coase, hanya jika syarat itu terpenuhi, maka pihak swasta itu
akan mampu mengatasi masalah eksternalitas dan meningkatkan efisiensi alokasi
sumber daya.
2.5.3
Penyebab Gagalnya Solusi Swasta
Logika teorema
Coase memang meyakinkan, namun tidak selamanya sesuai dengan kenyataan yang
ada. Dalam prakteknya, kita tahu bahwa pelaku-pelaku ekonomi swasta/pribadi
seringkali gagal memperoleh pemecahan yang efisien, atas suatu masalah yang
bersumber dari eksternalitas. Teorema Coase ternyata hanya berlaku, jika
pihak-pihak yang berkepentingan tidak dihadapkan pada kendala untuk mencapai
dan melaksanakan kesepakatan. Itu berarti, peluang kesepakatan memang selalu
terbuka, namun hal itu tidak selalu bisa diwujudkan.
2.6 Kebijakan Publik Untuk Mengatasi Eksternalitas
2.6.1
Regulasi
Mengatasi suatu
eksternalitas dengan melarang atau mewajibkan perilaku tertentu dari
pihak-pihak tertentu yang disebut regulasi atau pendekatan komando dan kontrol
untuk melenyapkan eksternalitas. Seperti pemerintah dapat menindak pihak-pihak
tertentu yang mencemari lingkungan dengan limbah produksinya.
2.6.2
Pajak Pigovian Dan
Subsidi
Pajak Pigovian adalah pajak yang khusus diterapkan untuk mengoreksi dampak dari suatu
eksternalitas negatif. Disebut pajak pigou karena ditemukan oleh ekonom yang
bernama Arthur Pigou (1877-1959). Bentuk dari pajak tersebut adalah ketika ada
dua pabrik yaitu pabrik baja dan pabrik kertas yang masing-masing membuang
limbah 500 ton per tahun, maka hanya dua pilihan yang mereka lakukan. Pertama,
Badan Perlindungan Lingkungan Hidup (EPA, Environmental Protection Agency) akan
mewajibkan semau pabrik untuk mengurangi limbahnya hingga 300 ton per tahun
atau yang kedua, mereka akan dikenai pajak sebesar $50,000 untuk setiap ton
limbah yang dibuang oleh setiap pabrik.
Memberi subsidi untuk kegiatan-kegiatan yang memunculkan eksternalitas positif.
Cara lain untuk meningkatkan efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi karena
adanya eksternalitas
adalah dengan pemberian subsidi kepada pabrik. Pada pabrik yang menimbulkan
eksternalitas negatif subsidi diberikan atas setiap unit barang produksi yang
dikurangi produksinya. Apabila pabrik tidak mau mengurangi produksi, maka untuk
setiap unit barang produksi berati pabrik akan kehilangan subsidi dari
pemerintah, sehinggan biaya oportunitas perusahaan adalah biaya marginal
ditambah subsidi yang hilang. Biaya oportunitas tersebut lebih besar dari
penerimaannya, sehingga perusahaan akan mengurangi produksinya.
2.6.3
Pemberian Hak Polusi
Melalui Lelang
Inefisiensi yang timbul karena adanya eksternalitas
dapat diatasi dengan cara lain yaitu dengan pemberian hak untuk menimbulkan
polusi dengan lelang. Perusahaan atau pabrik yang bersedia membayar paling
banyak yang diberi hak polusi pada tingkat polusi yang optimum. Keuntungan dari
cara ini adalah mudah dilaksanakan dalam praktik sehari-hari. Selain itu, akan
tercapai distribusi dari hak polusi yang optimal diantara para pengusaha, dalam arti pabrik yang mendapat
keuntungan terbesar dalam berproduksi dan menimbulkan polusi adalah pabrik yang
memperoleh hak untuk melakukan polusi.
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Dalam
kegiatan ekonomi jika terdapat aktivitas ekonomi yang tidak melalui mekanisme
pasar, maka telah terjadi eksternalitas. Eksternalitas merupakan suatu dampak
yang ditimbulkan oleh aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh suatu pelaku
ekonomi terhadap pelaku ekonomi lain. Eksternalitas tersebut dapat dibedakan
menjadi dua menurut penyebabnya yaitu eksternalitas produsen dan konsumen.
Eksternalitas
dapat memberikan dua dampak yaitu dampak positif dan dampak negatif. Dan
berdasarkan jenisnya eksternalitas dapat dibedakan menjadi eksternalitas
produsen-produsen lain, eksternalitas produsen-konsumen, eksternalitas
konsumen-konsumen lain dan eksternalitas konsumen-produsen. Eksternalitas yang
terjadi baik yang positif maupun negatif menimbulkan inefisiensi dalam masyarakat
karena produsen tidak pernah memperhitungkan eksternalitas yang mereka
timbulkan. Untuk mengatasi inefisiensi tersebut terdapat beberapa solusi
seperti yang telah dijelaskan diatas. Namun, pada
kenyataannya eksternalitas tetap sulit untuk di diagnosa karena begitu
banyaknya pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar