BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Makhluk hidup di dunia ini sangat
beragam, baik tumbuhan maupun hewan. Hal ini mendorong para ahli untuk
mempelajarinya lebih lanjut,dengan suatu sistem yang disebut klasifikasi.
Klasifikasi ini, memungkinkan para ahli lebih mudah mempelajari makhluk hidup
yang sangat beragam itu. Dasar klasifikasi makhluk hidup ini adalah adanya
persamaan dan perbedaan ciri-ciri morfologi, anatomi, fisiologi, tingkah laku,
dan lain-lain. Untuk mempelajari lebih lanjut, kita dapat mengamati beberapa
contoh hewan dan tumbuhan. Berdasar kesamaan ciri, kita dapat mengklompokan
atau mengklasifikasikannya. Kegiatan pengklasifikasikan makhluk hidup bertujuan
untuk memepermudah mengenal objek yanng beraneka ragam dengan cara mencari
persamaan dan perbedaan ciri serta sifat pada objek tersebut. Klasifikasi juga
mempermudah dalam pemberian nama ilmiah terhadap suatu individu.
1.2.
Rumusan
Masalah
1. Sebutkan dan jelaskan
keanekaragaman makhluk hidup !
2. Jelaskan apa yang dimaksud kunci
dikotom !
3. Sebutkan
dan jelaskan penyebaran makhluk hidup !
4. Sebutkan dan jelaskan manfaat
keanekaragaman makhluk hidup !
5. Apa
pengaruh manusia terhadap keanekaragaman makhluk hidup ?
1.3.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui keanekaragaman makhluk hidup.
2. Untuk
mengetahui kunci dikotom.
3. Untuk
mengetahui penyebaran makhluk hidup.
4. Untuk
mengetahui manfaat keanekaragaman makhluk hidup.
5. Untuk
mengetahui pengaruh manusia terhadap keanekaragaman makhluk hidup.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Keanekaragaman Makhluk Hidup
Istilah
keanekaragaman hayati atau “biodiversitas” menunjukkan sejumlah variasi yang
ada pada makhluk hidup baik variasi gen, jenis dan ekosistem yang yang di suatu
lingkungan tertentu. Keanekaragaman hayati yang ada di bumi kita ini merupakan
hasil proses evolusi yang sangat lama, sehingga melahirkan bermacam-macam
makhluk hidup.
A.
Sejarah
Klasifikasi
Klasifikasi adalah mengelompokkan obyek-obyek atau
informasi yang didasarkan pada persamaannya. Tumbuhan telah diklasifikasikan
atau dikelompokkan menjadi tumbuhan yang bisa dimakan dan tumbuhan beracun,
didasarkan pengaruhnya terhadap manusia. Sejalan perkembangan waktu,
berkembanglah ilmu taksonomi. Taksonomi adalah cabang biologi yang
mengkhususkan bidang bahasan pada pengelompokan dan pemberian nama organisme
atau makhluk hidup. Ahli biologi yang mempelajari taksonomi disebut taksonom.
Aristoteles adalah filsuf yunani (384-322 SM),
mengembangkan metode klasifikasi yang pertama. System ini mengelompokkan semua
makhluk hidup yang dikenal saat itu menjadi dua kelompok besar, yaitu tumbuhan
dan hewan. Tumbuhan adalah kelompok yang terdiri dari herba, semak dan pohon
tergantung ukuran dan struktur tubuhnya. Hewan terdiri dari kelompok yang
hidupnya di tanah, udara atau air. Pengamatan selanjutnya oleh ilmuwan lain
memunculkan kebingungan, sebab system aristoteles ini tidak dapat diterapkan, tidak
dapat menunjukkan keterkaitan atau kekerabatan diantara makhluk hidup yang ada.
System klasifikasi terus berkembang, berikutnya mengikuti
system Linnaeus. Linnaeus adalah ahli botani swedia (1707-1778), telah
mengembangkan system klasifikasi yang masih digunakan sampai saat ini. Berbeda
dengan system aristoteles, Linnaeus memilih cirri-ciri fisik yang tampak
sebagai dasar klasifikasi pada kekerabatan organisme. Linnaeus juga memilih
karakter atau ciri organisme yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan
dalam kaitan kekerabatan evolusi organisme.
B.
Tingkat
Keanekaragaman
1.
Keanekaragaman Tingkat
Gen
Makhluk
hidup tersusun atas unit satuan terkecil yang kita kenal sebagi sel. Dalam inti
sel terdapat materi pembawa sifat yang disebut gen. Setiap individu memiliki
jumlah dan variasi susunan gen yang berbeda-beda. Pada prinsipnya bahan
penyusun Gen setiap makhluk hidup adalah sama, namun jumlah dan susunanya yang
berbeda-beda sehingga menampilkan sifat-sifat yang berbeda-beda pula.
2.
Keanekaragaman Jenis
Variasi warna pada ikan dan warna bunga
menunjukkan adanya variasi dalam tingkatan jenis makhluk hidup. Variasi ini
disebabkan karena adanya rekombinasi (pencampuran) gen-gen dalam jenis tersebut
sehingga melahirkan variasi yang lebih
beragam.
3.
Keanekaragaman tingkat
ekosistem
Suatu
ekosistem terdiri dari komunitas hewan, tumbuhan dan mikroorganisme beserta
lingkungan abiotik dimana semua makhluk hidup tersebut berada. Kedua komponen
ini saling berinteraksi satu dengan lainnya dengan berbagai cara yang berperan
dalam siklus materi dan energi. Keanekaragaman ekosistem dapat dilihat dari
variasi ekosistem berdasarkan batas geografi.
C.
Sistem
Klasifikasi Makhluk Hidup
Klasifikasi
adalah menempatkan bersama-sama (mengelompokkan) hal-hal yang mirip satu sama
lain. Klasifikasi dilakukan berdasarkan persamaan dan perbedaan yang dimiliki
oleh makhluk hidup. Manfaat
klasifikasi :
Memudahkan mempelajari makhluk hidup yang beraneka ragam,
dapat digunakan untuk mengetahui hubungan kekerabatan
antara makhluk hidup.
Sistem klasifikasi terus berkembang, berikutnya mengikuti
sistem Linnaeus. Linneaus adalah ahli botani swedia (1707-1778), telah
mengebangkan sistem klasifikasi yang masih digunakan sampai saat ini. Berbeda
dengan sistem Aristoteles, Lineaus memilih ciri-ciri fisik yang tampak sebagai
dasar klasifikasi pada kekerabatan organisme.
v system klasifikasi
berdasarkan cara dan tujuannya
1. System Klasifikasi Buatan (Artificial)
Didasarkan
pada pertimbangan secara sekehendak hati para ahli taksonomi dengan melihat
habitat (tempat hidup) dan nilai guna dari makhluk hidup tersebut.
2. System Klasifikasi Alamiah (Natural)
Sistem
ini didasarkan pada kesamaan morfologi secara fenotip yang ada hubungannya
dengan makhluk hidup yang sesungguhnya.
3. System Klasifikasi Evolusi (Filogenetik)
Sistem
klasifikasi ini lebih menekankan aspek hubungan kekerabatan dan sejarah
perkembangan evolusi makhluk hidup yang ada sekarang.
v Klasifikasi Didasarkan
Pada Struktur
Begitu evolusi dikenal para ahli taksonomi mulai
menggunakan dua jalan pembuktian utama untuk klasifikasi : fakta-fakta fosil
dan struktur homolog. Fosil sering kali menyediakan petunjuk yang membantu
ilmuwan menentukan kekerabatan antar organisme.
Cukup banyak alasan dalam system klasifikasi Linnaeus tetap
bertahan yang menggunakan ide struktur homolog tanpa menyadari penggunaan
struktur sebagai dasarnya. Linnaeus mengelompokkan organisme didasarkan pada
keterkaitan evolusi.
Meskipun demikian fosil dan struktur homolog kadang-kadang
tidak dapat membuktikan suatu informasi dengan tepat atau lengkap. Demikian
juga adanya persamaan struktur yang memunculkan ketidaktepatan taksonomi.
Dengan berjalannya waktu, perlu digunakan jalur pembuktian yang lain.
v Klasifikasi Didasarkan
Sifat Biokimia Dan Perkembangannya
Ketika peralatan baru dalam ilmu pengetahuan alam menjadi
lebih tepat, seperti halnya mikroskop, ahli taksonomi mulai menggunakan
informasi itu untuk mengidentifikasi kekerabatan antara organisme. Kesimpulan akan
sulit diperoleh hanya berdasarkan struktur fase dewasanya. Akhirnya
perbandingan biokimia meyakinkan hubungan kekerabatan.
v
Klasifikasi Makhluk
Hidup berdasarkan Kingdom
·
Perkembangan
klasifikasi makhluk hidup sampai abad ke-18 menempatkan semua makhluk hidup dalam
salah satu dari dua kingdom yaitu tumbuhan dan hewan.
·
Pada masa berikutnya
para ahli taksonomi mengamati ada perbedaan kelompok makhluk hidup selain
tumbuhan dan hewan yaitu jamur (fungi), sehingga makhluk hidup dikelompokkan
menjadi 3 kingdom yaitu hewan, tumbuhan dan Jamur.
·
Copeland (1938-1847)
mengajukan 4 kingdom klasifikasi makhluk hidup, yaitu Monera untuk semua
makhluk hiudp prokariota, protista untuk semua makhluk hidup sedikit atau tidak
memiliki jaringan yang terdiferensiasi, metafita dan metazoamasing-masing untuk
dunia tumbuhan dan hewan tingkat tinggi.
·
Pada tahun 1969 Robert
H.Whittaker merumuskan 5 kingdom klasifikasi makhluk hidup yang sakarang banyak
digunakan meliputi: Monera, Protista, Fungi, Animalia dan Plantae.
D.
Sistem
Binomial Nomenclatur
pada
pertengahan abad ke-18 (1707-1778) Carolus Linnaeus mengajukkan system penamaan
makhluk hidup dalam tulisannya “Systema nature” dengan istilah “:Binomial
nomenclatur” (bi= dua, nomen=nama)yang artinya tata nama seluruh organisme
ditandai dengan nama ilmiah yang dterdiri dari dua kata latin atau yang dilatinkan.
Kata pertama menunujukkan genus, yang penulisannya dimulai dengan hurup besar,
sedangkan kata kedua merupakan “epitethon spesificum“ artinya penunjukkan jenis
(spesies) yang penulisannya dimulai dengan huruf kecil. Misalnya untuk nama
ilmiah singkong Felis domesticus . Felis menunjukkan genus, sedangkan
domesticus emerupakan ciri khsuusnya, yang berarti sejenis hewan yang
dipelihara di dalam rumah (domestik).
E.
Aturan
Pemberian Nama Ilmiah
Peraturan nama ilmiah memuat aturan
sebagai berikut:
1. Setiap oarganisme mempunyai nama
ilmiah tertentu.
2. untuk nama ilmiah digunakan
bahsa latin atau yang dilatinkan.
3. tidak ada dua organisme atau
lebih yang mempunyai nama spesies yang sama (tautonim) atau hampir sama.
4. nama genus harus terdiri dari
satu kata dan penulisannya selalu dimulai dengan huruf besar.
5. nama spesies terdiri dari dua
kata. Kata pertama merupakan nama genus dan kata kedua merupakan petunjuk
spesies.
Contoh nama ilmiah padi: Oryza sativa
1 2
1 = nama genus 1
+ 2 = nama spesies
2 = nama petunjuk spesies
6. Penulisan nama spesies harus
ditulis meiring atau digaris bawahi. Garis bawah kata pertama dan kedua secara
terpisah.
7. Nama penemu boleh dicantumkan
dibelakang nama spesies, seperti: Oryza sativa L., Rosa hybrida Hort,
dsb.
8. Untuk pemberian nama suku
(famili) terdiri dari satu kata majemuk dibentuk dari salah satu nama genus
yang dibawahinya ditambah akhiran –aceae untuk tumbuhan dan akhiran –idea untuk
hewan.
Seperti: Solanum + aceae =
Solanaaceae, Felis +
idae = Felidae
F. Tingkatan/Takson
Makhluk Hidup
Kelompok
taksonomi pada takson yang sama memiliki katagori yang sama. Urutan takson dari
yang tertinggi sampai terendah seerpti berikut:
|
Tingkat Takson
(tumbuhan)
|
Tingkat Takson
(Hewan)
|
Tingkat Takson (Bahas Indonesia)
|
Contoh Klasifikasi
|
|
|
Kingdom
|
Kingdom
|
Dunia
|
Animalia
|
|
|
Divisi
|
Phylum
|
Divisi/Filum
|
Chordata
|
|
|
Classis
|
Classis
|
Kelas
|
Mamalia
|
|
|
Ordo
|
Ordo
|
Bangsa
|
Primata
|
|
|
Familia
|
Familia
|
Suku
|
Hominidae
|
|
|
Genus
|
Genus
|
Marga
|
Pongo
|
|
|
Spesies
|
Spesies
|
Jenis
|
Pongo Pygmaeus
|
Setiap
takson memiliki persamaan dan perbedaan ciri. Makin tinggi takson makin sedikit
persamaan ciri yang dimilkinya dan dengan demikian makin banyak pula
perbedaanya. Sebaliknya makin rendah takson, mka makin banyak persamaannya dan
makin sedikit perbedaanya.
G. Konsep Spesies
Konsep
spesies menurut para ahli taksonomi merupakan gabungan populasi alami yang
secara morfologi dan ekologi serupa dan yang dapt melakukan perkawinan
(interbreeding) serta menghasilkan keturunan yang fertile. Contohnya Kuda dan
Keledai dapat melakukan perkawinan dan menghasilkan bagal, tetapi bagal ini
mandul maka kuda dan keledai bukan termasuk satu spesies.
2.2. Kunci Dikotom
Bagaimana anda bisa menemukan nama
organisme seperti yang ada pada gambar tabel ? cara yang termudah mungkin
dengan menanyakan pada ahli arthopoda di daerah anda. Namun demikian tidak ada
seorang pun yang tahu, atau bahkan diharapkan untuk tahu semua tentang
artropoda atau beberapa kelompok taksonomi utama yang lain. Yang akan dikatakan
para ahli pada anda adalah bahwa organisme tersebut serupa dengan semacam
tungau atau kutu. Cara lain yang dapat anda tempuh adalah merujuk pada buku
petunjuk lapangan yang berisi uraian kata-kata atau foto/gambar yang berperan
membantu identifikasi. Buku-buku petunjuk lapangan tersebut dapat ditemukan di
perpustakaan.
Sebagian besar buku-buku petunjuk
lapangan menggunakan deskripsi, seperti
cirri-ciri eksternal yang ditunjukkan pada gambar, dimana ilustrasi tentang
organisme dan informasi tentang tempat hidupnya dapat membantu identifikasi.
Kunci dikotomi yang digunakan oleh ilmuwan disusun dengan langkah-langkah
dengan dua pernyataan deskriptif pada masing-masing langkah. Cermatilah kunci
dikotomi untuk tungau dan kutu pada tabel. Perhatikan bahwa deskripsi yang
diberi label Ia dan Ib, 2a dan 2b, dan seanjutnya. Untuk menggunakan kunci
tersebut, anda harus selalu mengawali dengan pilihan dari pasangan deskripsi
pertama. Perhatikan bahwa di tiap-tiap akhir setiap deskripsi adalah
menunjukkan nama spesies atau petunjuk menuju tahaplain kelanjutannya. Jika
anda enggunakan kunci dikotomi dengan tepat, anda akan dapat menemukan nama
yang tepat untuk spesiesmu.
Silahkan mengidentifikasi tungau lunak
seperti pada tabel. Mulailah tahap pertama dari kunci. Kutu berwarna coklat
milik anda, seharusnya anda ke langkah 3. Ketika anda mengukur kutu dan
memperoleh panjangnya 5mm, sehingga anda harus ke langkah 4. Kutu anda berwarna
coklat bentuk oval, badannya pipih. Kamu memilih 4b. kunci dikotomi menunjukkan
pada anda bahwa kutu adalah contoh dari spesies ornithodores, yaitu kutu lunak
pada mamalia.
2.3. Penyebaran Makhluk Hidup
A.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi persebaran organisme :
1. Faktor
lingkungan:
terdiri dari:
·
Faktor Abiotik, misalnya daratan,
lautan, suhu, curah hujan dan lain-lain
·
Faktor Biotik, kehadiran mahluk
hidup lain, baik tumbuhan, hewan dan bakteri
2. Faktor barrier (penghambat fisik)
·
Land barrier (penghambat fisik
oleh daratan)
·
Water barrier (penghambat fisik
oleh perairan)
3. Faktor sejarah geologi
·
Continental Drift (pergeseran benua)
·
Garis Wallace dan Garis weber (merupakan pemisahan oleh palung laut yang dalam
B.
Persebaran
Tumbuhan
v Berdasarkan ketinggian
(vertical)
1.)
< 700 m, wilayah iklim panas, suhu rata-rata > 22oC.
contoh : padi, tebu, kelapa dan
jagung.
2.) 700-1500 m, wilayah iklim sedang, suhu
rata- rata 15o – 22 o C. contoh : teh, kopi, kina dan
karet.
3.) 1500-2500 m, wilayah iklim sejuk, suhu
rata-rata 11o – 15o C. contoh : pinus, cemara, dan
hortikultura.
4.) 2500-4000 m, wilayah iklim dingin, suhu
rata-rata < 11oC. contoh : lumut.
v Berdasarkan Garis
Lintang (vertical)
1) Daerah
Tropika ( 23,5 o LU – 23,5o LS), wilayah iklim tropis,
suhu rata-rata > 22o C, dengan ciri tumbuhan:
- Pohonnya besar dan tinggi
- Adanya tumbuhan menempel (epifit): mis.
benalu dan anggrek.
- Ada tumbuhan menjalar ke atas, misalnya
rotan.
- Ada strata kehidupan
- Ada semak / perdu
2)
Daerah Subtropika (23,5o – 66,5o LU/LS), wilayah iklim
sedang,
mengalami empat musim (panas, gugur,
dingin, semi), dengan ciri tumbuhannya:
- Pohonnya tinggi
- Ada pohon yang daunnya gugur pada musim
gugur
- Ada padang rumput di tengah benua.
3)
Daerah Kutub (66,5o – 90o LU/LS), wilayah iklim dingin, pada
musim panas matahari bersinar > 12 jam, musim dingin matahari bersinar <
12 jam, dengan ciri tumbuhannya:
- Spesies homogen, berdaun jarum. Contoh:
pinus, cemara : Hutah taiga.
- Ada
lumut : Tundra
C.
Persebaran
Hewan
·
Wilayah Paleartik
(Eropa dan Asia Utara)
·
Wilayah Neartik
(Amerika Utara)
·
Wilayah Neotropik ()Amerika Tengah-Selatan)
·
Wilayah Ethiopia
(Afrika dan Arabia)
·
Wilayah Australia
(Australia & sekitarnya)
·
Wilayah Oriental (Asia
Selatan, Indonesia)
v Bioma
Jika anda bepergian lintas daerah,
mungkin anda akan menyaksikan kondisi alam yang sangat berbeda. Mungkin anda
akan melalui daerah yang didominasi dengan rerumputan dan hewan-hewan melata
(reptilia), sementara di daerah lain anda akan menyaksikan daerah dengan
kondisi hutan yang dipenuhi pepohonan dn berbagai hewa mamalia, aves, reptile,
dan amphibian serta tumbuhan paku-pakuan dan beraneka tumbuhan yang hidupnya
memanjat atau membelit. Komunitas hewan dan tumbuhan yang berbeda sepeti itu
disebut bioma.
Jumlah sebenarnya berbagai macam bioma
di muka bumi ini tidak dapat diketahui. Hal ini karena tidak ada daerah yang
sama sekali homogen dan dalam kehidupan tumbuhan dan hewan. Jika anda ingin
menekan perbedaannya, anda menambah jumlah bioma. Jika anda mengabaikan
perbedaannya dan mementingkan keseragaman, anda memilih-milih jumlah bioma yang
lebih kecil.
Sejumlah sifat iklim berinteraksi dalam
penciptaan dan pemeliharaan suatu bioma. Bila presipitasi cukup banyak (40 inci
atau lebih setahun) dan terdistribusi dengan baik dalam setahun,maka determinan
utama adalah suhu. Sebelumnya dalam bab ini kita mempelajari mekanisme yang
menciptakan suhu rata-rata yang amat penting, melainkan factor pembatas seperti
apakah membeku atau panjangnya musim tumbuh. Andaikata curah hujan memadai,
terdapat empat bioma yang cirri-cirinya diperoleh dari daerah dengan suhu
rata-rata tinggi (tropika) sampai dengan daerah suhu rata-rata rendah (artika).
v Hutan Hujan Tropis
Di belahan bumi sebelah barat, hutan
hujan tropis mencapai perkembangan sepenuhnya. Pohonnya tinggi sekali dan
sangat beragam spesiesnya. Jarang dijumpai dua pohon yang sama tumbuh
berdekatan. Vegetasinya sedemikian rapat sehingga sedikit saja cahaya yang
masuk sampai ke dasar hutan. Sebagian besar tumbuhan selalu hijau, bukan
tumbuhan meranggas. Cabang-cabang pohon penuh dengan liana dan epifit. Epifit
adalah tumbuhan yang hidup menempel di atas tumbuhan yang lebih kuat. Berlainan
dengan liana, akar-akarnya tidak sampai ke tanah. Mereka tidak mengambil
makanan dari inangnya. Anggrek merupakan contoh dari kelompok epifit.
v Hutan Meranggas Iklim
Sedang
Bioma hutan meranggas iklim sedang
meliputi wilayah di ameriak utara bagian timur amerika serikat. Bercirikan
pohon keras (beach, maple, oak dan sebagainya) yang meranggaskan daunnya pada
musim gugur. Jumlah spesies pohon yang berbeda di sini jauh lebih terbatas
daripada di bioma hutan hujan tropis, dan tegakan atau pohon spesies tunggal
menempati wilayah yag luas. Adapun adanya kehidupan hewan seperti rusa, musang
topeng (raccoon) dan salamander merupakan cirri khusus bioma ini.
v Taiga
Bila seseorang bergerak ke utara
kanada, suatau gambaran baru yang tampak adalah pemandangan yang didominasi
oleh conifer, khususnya “spruce” dan “fir”. Taiga merupakan bioma seperti yang
ditemukan di rusia, yaitu daratan dengan danau dan dihuni oleh beruang,
binatang pengerat misalanya bajing, burung dan “moose” sejenis rusa. Hewan
terakhir ini sangat khas sehingga ada juga yang menamakannya bioma
“spruce-moose”. Selama musim salju yang dingin, banyak dari mamalia itu berhibernasi
(tidur), sedangkan banyak burung-burung bermigrasi.
v Tundra
Makin jauh ke utara, pohon-pohon di
bioma taiga menjadi kerdil karena iklim subartika semakin keras. Akhirnya
kebeadaan pohon-pohon tersebut lenyap dan tampaklah daratan berawa dan berdanau,
suatu daratan yang demikian dinginnya dalam musim salju sehingga dari panjang
dan musim panas kutub yang singkatpun tidak cukup untuk dapat mencairkan
lapisan es di bawah lapisan permukaan tanah. Lumut spagnum, berbagai macam
lichens (lumut kerak), dan beberapa rerumputan dan tumbuhan semusim yang tumbuh
cepat mendominasi pemandangan selama musim tumbuh yang pendek. Hewan karibu
hidup tumbuh dari tumbuhan ini. Demikian juga sejumlah besar serangga. Kawanan
burung bermigrasi, khususnya unggas air, menduduki tundra dalam musim panas
untuk mengasuh anaknya, memberinya makanan serangga dan berbagai macam
avertebrata dan vertebrata air. Menjelang akhir musim panas kutub,
burung-burung terbang ke selatan, dan hampir dari semua penghuni tetap, menurut
caranya masing-masing mempersiakan diri menghabiskan musim dingin dalam
keadaaaan dorman.
v Padang Rumput
Presipitasi tahunan di padang rumput
rata-rata 20 inci (50 cm) per tahun. Sebagian besar dari presipitasi ini jatuh
dalam musim tumbuh. Hal ini mendorong pertumbuhan rerumputan yang optimal.
Banyaknya rumput yang melimpah untuk makanan ternak, serta tiadanya
perlindungan dari pemangsa, berakibat populasi hewan yang serupa di padang
rumput di seluruh muka bumi.
v Padang Pasir
Curah hujan tahunan dipadang pasir kurang
dari 10 inci, dalam beberapa tahun, mungkin nol. Karena kekiringan yang luar
biasa dipadang pasir, koloniasinya terbatas untuk tumbuhan kaktus dan tumbuhan
tahunan yang tumbuh cepat dan biji-bijian dapat berkecambah, berkembang dan
berbunga dan menghasilkanbiji-bijian tanaman baru dalam beberapa minggu setelah
hujan lebat yang langka.
2.4. Manfaat
Keanekaragaman Makhluk Hidup
a)
Sebagai sumber bahan pangan, papan dan obat
Kita memanfaatkan berbagai biji-bijian, buah, sayur,
umbi, daging hewan seperti sapi, ayam, kambing untuk bahan makanan. Kita memanfaatkan
berbagai macam kayu seperti jati, sono keling untuk bahan bangunan. Kita
memanfaatkan tanaman kunyit, kencur, mengkudu sebagai obat-obatan dalam
kehidupan sehari-hari.
b)
Sebagai sumber pendapatan/devisa
Keanekaragaman hayati dapat dijadikan sebagai sumber
pendapatan. Misalnya untuk bahan baku industri (kayu cendana untuk bahan
kosmetik, kopi dan teh untuk industri minuman, karet untuk industri ban mobil,
dll).
c)
Sebagai sumber plasma nutfah
Plasma nutfah adalah sifat unggul yang ada pada makhluk
hidup. Makhluk hidup yang begitu banyaknya merupakan sumber nutfah yang harus
dijaga. Hutan merupakan gudang plasma nuftah.
d)
Manfaat ekologi
Keanekaragaman makhluk hidup merupakan komponen ekosistem
yang sangat penting. Hutan hujan memiliki nilai ekologi yang panting, antara
lain :
·
Hutan hujan tropis
merupakan paru-paru bumi. Kegiatan fofosintesis yang terjadi di hutan tropis
dapat menurunkan kadar karbon dioksida di atmosfer.
·
Hutan hujan tropis dapat
menjaga kestabilan iklim global, dapat mempertahankan suhu dan kelembapan
udara.
e)
Manfaat keilmuan
Makhluk hidup yang beraneka ragam di dunia merupakan
sumber ilmu yang masih dapat terus digali. Misalnya banyak rahasia di alam yang
belum ditemukan.
f)
Manfaat keindahan
Makhluk hidup yang beraneka ragam di dunia ini akan
menambah keindahan alam. Manusia seringkali memanfaatkan keanekaragaman makhluk
hidup untuk keindahan, seperti mambuat taman yang terdiri dari berbagai
tumbuhan
2.5.
Pengaruh Manusia Terhadap Keanekaragaman Makhluk Hidup
a). Kegiatan
manusia yang merusak keanekaragaman makhluk hidup
Banyak aktifitas
manusia yang merusak keanekaragaman makhluk hidup. Rusaknya keanekaragaman
hayati dapat terlihat dari punahnya beberapa jenis hewan. Salah satunya adalah
harimau bali yang sudah tidak pernah diketemukan lagi. Beberapa aktifitas
manusia yang dapat merusak keanekaragaman makhluk hidup :
• Perusakan
habitat
Habitat
adalah tempat hidup makhluk hidup. Perusakan habitat menyebabkan kepunahan.
Kerusakan habitat dapa terjadi
karena ekosistemnya diubah fungsinya oleh manusia.
• Penggunaan
pestisida
Contoh pestisida adalah insektisida, herbisida, dan fungisida. Pertisida
sebenarnya ditujukan untuk membunuh makhluk hidup pengganggu, tetapi pestisida
juga menyebar ke lingkungan dan meracuni mikroba, jamur dan hewan.
•
Pencemaran limbah dan sampah
Limbah dan sampah dapat berasal dari pabrik dan rumah tangga. Limbah dapat
membunuh makhluk hidup.
•
Perubahan tipe tumbuhan
Tumbuhan merupakan produsen di dalam ekosistem. Perubahan tipe tumbuhan,
misalnya perubahan dari hutan hujan tropis menjadi hutan produksi, dapat
mengakibatkan hilangnya tumbuhan-tumbuhan liar.
b)
Kegiatan Manusia Yang Memperbaiki Dan Menjaga
Keanekaragaman Makhluk Hidup
Ø Penghijauan
Kegiatan penghijauan
meningkatkan keanekaragaman hayati. Setelah melakukan penghijauan, yang penting
adalah melakukan perawatan tanaman.
Ø Pamuliaan
Adalah usaha membuat varietas
unggul dengan cara melakukan perkawinan silang. Usaha pamuliaan ini
menghasilkan varian baru.
Ø Pelestarian in
situ
Adalah pelestarian di dalam
habitat aslinya. Misalnya mendirikan cagar alam ujung kulon dan taman nasional
komodo.
Ø Pelestarian ex
Situ
Adalah pelestarian di luar
habitatnya. Misalnya penangkaran hewan dikebun kebun binatang.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Makhluk hidup di
dunia ini sangat beragam. Keanekaragaman Makhluk Hidup di sebut dengan keanekaragaman
hayati. Setiap sistem lingkungan memiliki keanekaragaman Hayati yang berbeda.
Keanekaragaman Hayati ditunjukkan dengan adanya berbagai variasi bentuk,
ukuran, warna, dan sifat-sifat dari makhluk hidup lainnya.
Keanekaragaman
Hayati disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan.
Terdapat interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan dalam
mempengaruhi sifat makhluk hidup. Klasifikasi makhluk hidup dilakukan
berdasarkan kesamaan morfologi, anatomi, fisiologi, dan cara
perkembangbiakannya. Dengan klasifikasi tersebut akan terbentuk
kelompok-kelompok makhluk hidup yang disebut takson. Setelah
diklasifikasikan, suatu makhluk hidup diberi nama berdasarkan kelompok yang
dimilikinya. Sistem tata nama yang dipakai saat ini adalah sistem tata nama
biner yang disebut binomial nomenclature.
3.2 Saran
Apabila ada penulisan yang salah dalam makalah ini kami
meminta maaf, dan kami meminta bantuan dari pembaca untuk memperbaikinya.